Title : Kimi ga iru
Pairing : Onkey
Length : chapter
Author : Keytakaoru
Rating : T
Genre : drama, romance (?)
entah saya juga bingung genre apa sebenarnya ff ini #pabbo author
Desclaimer : Onkey itu milik satu
sama lain meski saya sebenernya juga tergila-gila dengan yang namanya Key tapi
rela deh saya kalo buat Key bahagia, apadeh #ditampol
Warning : miss typho, tdk sesuai EYD, may be out of
character, BL dll jadi buat yang gak
suka daripada membashing saya atau lebih parahnya bias saya yang jadi pair di
cerita ini, mending Anda menjauh
Nb : ini pertama kalinya saya memakai pov orang pertama bukan orang ketiga seperti
biasanya, harap maklum kalau memang masih aneh. #bow
Aku selalu dan selalu ingin bertemu dengannya
Sampai hatiku seperti akan meledak saja bahkan hanya dengan
membayangkan bisa bertemu orang itu
Hari ini, aku akan pergi menemuinya, ya aku akan ke Seoul tak peduli bahwa
orang itu akan tidak mengenaliku lagi
Atau aku akan terpuruk di kota ini sendirian merindukannya
****
“aku nggak kenal”
Satu kalimat itu benar-benar
menghancurkan hatiku menjadi serpihan. Aku telah rela jauh-jauh pergi dari
Daegu hanya untuk menemuinya dan dengan entengnya jawaban ini yang kuterima.
“eh ? kau benar tidak mengenaliku
?”
“maaf ya aku nggak kenal kamu.
Lagian aku nggak pernah bergaul dengan orang udik seperti kamu.”
“dongwoon ah, kau benar-benar
deh, masa kau juga menyentuh namja macam itu.” Seseorang tiba-tiba muncul
diantara kami berdua.
“apa yang kau katakan. Tidak
mungkin lah. Kajja kita pergi, orang ini hanya stalkerku saja.”
“chakkaman.”
BRUK…
Ah, aku benar-benar bodoh, kenapa
hanya mengejar ia saja aku justru jatuh terjerembab seperti ini, memalukan. Aku
benar-benar malu, sepertinya aku tidak dapat berdiri lagi. Pandangan
teman-temannya benar-benar membuatku ingin menghilang saja.
“siapa sih dia ? kampungan
banget.”
Satu lagi kalimat yang
mengahancurkan hatiku, aku yakin sekali lagi saja kata-kata semacam ini muncul
dan aku akan benar-benar memutuskan untuk mengubur diriku sendiri. Wae? Kenapa
semua orang yang dari kampung mesti disebut kampungan. Tidak berpikirkah mereka
justru sikap sok macam itu yang disebut kampungan. Tapi aku memang hanya namja
kampung dan ini kota besar Seoul yang kejam, aku tidak mungkin melawan mereka,
cari mati namanya.
Flashback
“Key… ini Dongwoon. Dia baru saja
pindah ke sebelah rumah kita. Baik-baiklah dengannya.”
“Annyeong haseyo Key shi.
Dongwoon imnida.”
“annyeong haseyo. Kau benar-benar
keren Dongwoon ah, kau pasti berasal jauh dari sini.”
“ne, aku dari Seoul. Aku akan
tinggal disini beberapa tahun selama ayahku masih bekerja di sini.”
“jinjja? Ah senangnya aku jadi
punya teman main.”
Aku dan Dongwoon menjadi sahabat
sejak itu, kami tidak terpisahkan hingga 3 tahun lamanya sampai Dongwoon harus
kembali ke Seoul. Kami hanya anak-anak berumur 12 tahun saat itu dan perpisahan
itu membuatku menangis seharian. Saat itu aku benar-benar tidak tahu perasaan
apa yang membuatku merasa sesak sekali saat ia tinggalkan dan kini ketika aku
telah menginjak bangku SMA aku tahu benar bahwa itulah yang dinamakan cinta.
Apa lagi? Sudah lewat beberapa tahun dan aku masih mengingatnya bahkan
merindukannya, perasaan macam apa kalau bukan cinta yang kurasakan.
****
Aku masih terduduk di tempat aku
terpeleset tadi. kini air mataku mulai turun. Sakit, bukan karna jatuh
terpeleset itu tapi melihat Dongwoon yang kurindukan justru mengabaikanku seperti
ini, aku tidak bisa mengangkat kepalaku sekarang.
“ini milikmu? baunya sungguh
menjijikkan.”
Aku mendengar suara, apa orang
itu berbicara denganku? Ia berdiri di
hadapanku sekarang. Aku mendongak dan dapat melihat wajah tampan namun terkesan
dingin sedang menatapku. Bodoh, kenapa aku sempat memikirkan hal semacam ini
ketika aku dalam keadaan memalukan. Eh tapi apa tadi ia bilang, baunya
menjijikkan? Aku menoleh pada kotak yang ada di tangannya. Itu bekal makan yang
special kusiapkan untuk Dongwoon. Asinan yang kubuat dengan tanganku sendiri.
Seketika rasa marah meliputi diriku. Ada apa dengan orang-orang Seoul ini,
kenapa semuanya benar-benar bersikap begitu tidak manusiawi.
“bau kau bilang ?” entah kekuatan
dari mana, aku justru bisa berdiri sekarang dan balik menatap marah orang di
hadapanku.
“lebih baik kau lupakan Dongwoon
saja. Hidupmu masih panjang. Jangan menyerah.”
Dia pikir dia siapa semudah itu
menyuruhku melupakan orang yang kucintai. Dan apa itu? Wajah dinginnya sama
sekali tidak cocok dengan kata-katanya yang seperti ahjumma-ahjumma sedang
memberi nasihat anak orang.
Tapi kenapa ia berkata seperti
itu. Jangan-jangan aku bersikap aneh tadi makanya Dongwoon pura-pura tidak
menegnalku atau Dongwoon sudah punya pacar ? aku harus menanyakan itu padanya.
Eh, kebanyakan berfikir aku jadi tidak menyadari namja itu sudah melangkah
pergi kan.
“tunggu, apa kau tahu sesuatu
tentang Dongwoon ?”
“kenapa kau menyuruhku
melupakannya ? memangnya aku melakukan sesuatu yang dia benci ya ? atau dia sudah
punya pacar ?”
“molla, aku hanya melihat
kejadian tadi.”
“jebal, aku hanya kenal Dongwoon
di sini. Mana bisa aku melupakannya.”
Aku tidak tahu bagaimana aku bisa
bersikap sebodoh ini tapi ini semua demi Dongwoon. Demi dia aku rela memohon
pada namja yang tidak ku kenal ini.
“apaan sih? Kenapa namja kampung
seperti kau pegang-pegang Onew hyung sih.”
“jinjja. Kau benar-benar keliling
Seoul dengan dandanan seperti ini ? haha… “
Dua kalimat tadi berasal dari dua
orang yang berjalan bersama namja yang disebut-sebut sebagai Onew hyung itu. Ah
matta, itu namanya, Onew, aneh tapi menarik.
“aku mengerti bagaimana
perasaanmu.”
Ternyata namja bernama Onew ini
baik juga.
“ikut denganku”
Tangan itu menarikku untuk
beranjak dan entah karena apa pipiku memanas. Bagaimanapun Onew adalah namja
yang tidak bisa disebut jelek. Ia benar-benar tampan dengan mata sabit dan
kulit seputih tahu, aneh sekali aku mendeskripsikan orang seperti ini, haha…
****
“eh, dimana kita ini ?”
“ini salon kakakku. Tapi karena
hari ini libur jadi kau nggak akan dipungut biaya,.”
Tempat ini benar-benar
menakjubkan. Aku tinggal di desa selama ini dan baru pertama kali aku ke tempat
seperti ini, semuanya tampak begitu menyilaukan.
“lalu, apa yang akan kita lakukan
di sini ?”
“sudah kuputuskan aku akan
mengubah bentukmu.”
“MWO ?”
“sudahlah, duduk saja. Jangan
berontak atau kau nanti kena potong.”
Aku ketakutan sekarang. Dulu
nenekku pernah berkata kalau Seoul adalah tempat yang menakutkan. Orang-orang
kota juga tidak pernah baik. Aku jadi menyesal datang ke kota ini, padahal aku
sudah tau kalau akan begini jadinya. Pasti saat aku membuka mata nanti
dandananku jadi aneh dan orang-orang itu akan semakin menertawakanku.
“ok, buka matamu.”
Perlahan-lahan aku membuka mata.
Terkesiap, bukan karena wajah aneh yang aku lihat di cermin. Aku sungguh tidak
percaya apakah ini benar-benar diriku. Aku benar-benar terlihat sangat
bagaimana mengatakannya, tampak berkilau. Rambutku terlihat sangat cocok dengan
wajahku,
“ini gaya dandanan kesukaan
Dongwoon”
“pertama kali melihatmu aku tahu
kau nggak pernah berdandan. Nah, karena kau masih pemula, kupikir akan lebih
cepat mempraktekannya langsung daripada cuma dijelaskan. Selanjutnya, yang
perlu diperbaiki adalah gaya berpakaianmu, setelah itu semuanya pasti
sempurna.”
“ini aku ?”
Rasanya aku masih tidak percaya,
seperti mimpi.
“ne. ah iya miane. Mau kau
lupakan atau tidak, nggak sepantasnya kata-kata itu keluar dari mulutku. Karena
itu lebih baik kau bicara pada Dongwoon sekali lagi. Ini adalah permintaan
maafku karena sudah bilang yang aneh-aneh.”
Aku terdiam mendengar
perkataannya. Selama ini aku pikir orang kota terutama Seoul sama sekali tak
punya perasaan tapi Onew berbeda. Aku tahu meski dia terkesan dingin tapi kalimat
barusan tulus dari hatinya. Ah bodohnya, aku bahkan lupa belum memperkenalkan
diriku pada namja yang telah membantuku ini.
“A… Key imnida. mulai besok aku
akan sekolah di SM High School kelas 1-4. Kalau kau ?”
”aku Lee Jinki tapi temanku lebih
banyak memanggil Onew. Kebetulan sekali, kita sekelas.”
“iye? Onew shi kelasnya sama ?”
Ini pasti takdir, aku berangkat
sendirian ke kota besar ini kemudian Tuhan mengirimkan orang baik yang sekelas
denganku agar aku tidak sendiri.
“ehm… bolehkah kalau aku
menganggapmu temanku?”
“bo… boleh kok .”
Onew pasti tidak bisa menolak
pesonaku, aku sudah memasang kitty eyes 1000 watt ini.
“sungguh ? khamsahamnida. Ah,
terimalah ini. Ini adalah acar buatanku, meskipun baunya sedikit aneh tapi
rasanya enak kok.”
Syukurlah, aku benar-benar
bersyukur sudah bisa bertemu dengan Onew. Karena itu Key, Hwaiting ! Meskipun
pada awalnya aku mengalami sedikit masalah. Tapi sekarang aku merasa
kehidupanku di Seoul akan berjalan lancar, dan itu semua berkat dia.
****
“daebak, padahal kemarin Dongwoon
berkata dia tidak mengenaliku tapi hari ini dia bilang lama nggak ketemu ya,
dan besok kita janji akan makan bekal bersama.”
“ini semua berkat Onew shi,
gomawo.”
“gwenchana.”
“aku kaget loh ternyata kau
terkenal sekali yah. Mau bicara denganmu saja susah banget. Banyak sekali
kerumunan gadis yang mendekatimu jadi suaraku tidak terdengar.”
“tapi aku tahu kok kenapa semua
ingin dekat denganmu. Habisnya kau baik dan keren.”
Tanpa sadar aku jadi banyak
bicara. Entahlah hatiku rasanya bahagia sekali terus berbicara dengan Onew. Yah
meski namja itu hanya menjawab sepatah dua patah kata sebagai balasan.
Tiba-tiba Onew menyentuh
rambutku, mengembalikannya di belakang telinga.
“dari tadi kau makan rambutmu.”
Onew tersenyum, senyum termanis yang pernah kulihat.
“ah iya mungkin gara-gara aku
terlalu banyak bicara.” Kenapa aku tiba-tiba merasa malu.
“ternyata acar yang kau beri
kemarin enak.”
“ yang benar? Oh ya, aku besok
juga akan membawakan Dongwoon bekal, sebenarnya acar itu adalah makanan
kesukaannya.”
“anu, kupikir kau juga tahu kalau
kau ingin dekat dengan Dongwoon kita tidak boleh sedekat ini lagi.”
“bukannya aku tidak mau mengobrol
denganmu tapi kalau Dongwoon melihat kita seperti ini dia bisa berprasangka
buruk.”
Aku melihat Onew berjalan
menjauh, dan hatiku menjadi sangat sakit bahkan melebihi saat Dongwoon menolak
kedatanganku.
****
“ini semua kau yang buat Key ?”
“i…iya.” Orang pasti mengira aku
gagap karena gugup. Tapi bukan, aku merasa bingung, aku tidak sebahagia ketika
makan bekal bersama Onew, padahal saat ini aku sedang bersama Dongwoon, orang
yang aku cintai.
Kenapa aku jadi begini? semuanya
sudah berjalan dengan sempurna. Akhirnya aku juga bisa dekat dengan Dongwoon
tapi kenapa rasanya hatiku …
“Key… acarnya biarkan saja.
Sekarang mari kita lakukan yang seharusnya orang dewasa lakukan.”
Aku takut, Dongwoon memojokkanku
ke dinding, ia terus dan terus mendekat, aku tau ini tidak berarti baik. Aku
seharusnya tau kalau Dongwoon sudah jauh berubah, ia sudah tidak seperti anak
manis yang dulu lagi.
Kini apa yang bisa kulakukan?
Dongwoon sengaja memilih tempat yang sepi dan tidak akan ada yang mendengarku
meminta tolong. Aku hanya bisa memejamkan mata sambil gemetar ketakutan.
“Dongwoon ah, jebal. Kau jangan bersikap
yang aneh-aneh.”
“YANG ANEH ITU KAU.” Aku bisa
menghela nafas sekarang karena Dongwoon akhirnya kembali ke tempat duduknya
semula.
“apa maksudmu ?”
“kita ini sudah SMA. Jangan terus
bersikap seperti anak-anak . penampilan luarnya saja yang berubah. Kalau kau
terus seperti ini mana bisa punya pacar. Sebenarnya kau belum punya teman juga
kan? Aku nggak pernah lihat kau mengobrol dengan seseorang.”
“ada kok” aku teringat Onew, dia
harusnya sudah pantas disebut teman kan? Kami bahkan lebih dekat daripada aku
dengan Dongwoon saat ini.
“Mwo? Kau hanya mengarang cerita
saja kan. Haha… kasian sekali. Memang siapa yang mau berteman denganmu hah?”
Dongwoon kembali mendekatkan tubuhnya padaku. Ini serius, ia hampir menciumku
sebelum …
BRAK ….
“aku orangnya.”
Onew, namja itu muncul dan
mendorong jatuh tubuh Dongwoon menjauh dari tubuhku.
“ayo pergi. Masih terlalu cepat
buatmu untuk mencapai tahap ini.” Onew mengulurkan tangannya padaku.
“YAH, kau cuma temannya kan?
Namja itu jelas-jelas suka padaku.” Aku jadi berharap tidak pernah suka pada
orang macam Dongwoon sekarang.
“AKU INI BUKAN TEMANNYA TAPI
PACARNYA, PUAS?”
Aku tidak mengerti apa maksud
Onew. Sebenarnya setelah itu ia sempat menjelaskan padaku tentang pernyataannya
tadi di hadapan Dongwoon, tapi aku tidak terlalu mendengarkan karena hanya
suara debaran jantungku yang terdengar lebih keras dan bergema di kepalaku.
TBC ...








0 komentar:
Posting Komentar