Title : Really Hurt
Pairing : 2Min
Length : oneshoot
Author : Keytakaoru
Rating : T
Genre : drama, romance, angst, hurt
Desclaimer : 2Min itu milik satu sama lain meski
saya sebenernya saya agak gak rela nyerahin Taemin yang unyu-unyu ke kodok belo
macem Minho #dicekek flamers.
Warning : miss typho, death chara, tdk
sesuai EYD, may be out of character, BL dll jadi buat yang gak suka daripada
membashing saya atau lebih parahnya bias saya yang jadi pair di cerita ini,
mending Anda menjauh
Minho masih ragu
untuk membuka diary di tangannya. Diary itu mengingatkannya akan si pemilik.
Berwarna kuning dengan motiv pisang-pisang kecil seperti kesukaan si pemilik.
Sudah lewat berhari-hari dan ia tetap tak sanggup menentukan sikap apa yang
akan ia lakukan pada diary itu, ia bahkan belum membuka sama sekali halaman
depan diary itu.
Sebenarnya Minho
bisa saja memutuskan untuk meletakkan diary itu kembali ke tempatnya. Namun,
ini adalah kesekian kali ia ragu. Ia tidak mungkin meletakkan diary itu lagi
karena tiap kali ia mencoba membukanya butuh lebih dari cukup keberanian untuk
melakukannya.
Dengan tangan
gemetar ia membuka sampul dimana tertulis nama si pemilik “Taemin’s diary” di
ujung kanan. Minho jadi membayangkan bagaimana tawa khas namja cantik itu.
Sungguh bayangan itu menusuk hatinya lebih dari yang ia duga, kembali bertarung
dalam hati apa ia akan tetap melanjutkan misi membuka diary itu.
Halaman kedua,
seperti diary kebanyakan, itu merupakan curhatan Taemin sehari-hari, tertera
tanggal disana, tanggal itu Minho ingat
sekali itu adalah kali pertama dia dan Temin masuk SMA meski saat itu Minho
memang belum mengenali Taemin, isinya? Hanya kesan dingin seorang Taemin
tentang sekolah yang membosankan, tentang teman-teman yang bahkan tak ingin ia
kenal. Ya, Taemin memang terlihat dingin sekali sebelum akhirnya dia mulai
terbuka dan menjadi sangat ceria setelah mengenal Minho.
Minho cukup lega
melewati 2 halaman ini tanpa hambatan berarti, halaman-halaman berikutnya tetap
berisi curhatan tidak penting yang lagi-lagi isinya seperti halaman kedua.
Namun tepat pada halaman kesepuluh Minho merasa hatinya menghangat, tanggal
yang tertera adalah hari ketika Minho dan Taemin pertama kali bertemu. Minho
mengingatnya sebagai kenangan yang paling menyenangkan karena setelah sekian
lama ia tidak pernah dekat dengan seseorang ia merasa Taemin adalah orang
pertama yang bisa menarik hatinya dengan mudah, yah meski saat itu mereka
bahkan memulai dengan pertengkaran.
flashback
Taemin masih ada
di dalam kelas meski kelas itu sudah sepi. Ya, ini memang jadwal piketnya.
Taemin seorang diri sekarang sedang menyapu ruangan itu. Teman-temannya? Mereka
memanfaatkan sifat Taemin yang pendiam dan tidak banyak berinteraksi dengan
orang lain untuk menghindar dari tugas mereka, tentu saja seorang Taemin tidak
bakalan mau repot-repot mengurusi hal itu dan akan lebih memilih menyelesaikan
semuanya sendiri.
Saat asyik
menyapu tanpa sengaja ia menyenggol bangku disebelahnya dan tanpa diduga
seseorang terjatuh dari bangku itu
“appo…” namja
yang terjatuh tadi tampak kesakitan karena ia memegangi lengannya yang
berdarah.
“mianhe… aku tak
sengaja” ucap Taemin menyesal
“gwenchana, eh
kau keluarga bangsawan kerajaan Korea itu kan? Yang pendiam dan anti sosial
itu? Kau bisa bicara ternyata, sampai meminta maaf segala lagi, haha…” namja
itu sekarang malah cekikikan sambil memegangi perutnya merasa ada yang lucu
dari namja cantik dihadapannya.
“Yah, kau tau
aku bangsawan tapi masih bisa berbicara seperti itu. Aku tarik kata maafku.
Lagipula kau Minho, juga anti sosial kan? Harusnya kau berkaca dulu pada
dirimu.” Jawab Taemin angkuh
“miane.. miane..
kau jangan marah begitu dong, aku hanya bercanda.” Minho mencoba serius kali
ini.
Taemin jadi
berfikir kalau namja dihadapannya mungkin ada kelainan jiwa, tadi meringis
kesakitan terus menertawakannya sekarang justru minta maaf.
“tapi, apa tadi?
Kau bilang aku anti sosial? Ck… kau saja yang terlalu tidak peduli, aku
bukannya anti sosial tapi anak-anaklah yang menghindariku. Beda denganmu yang
kaya dan sempurna tapi memilih untuk menjauh aku hanyalah anak miskin yang
masuk ke sekolah ini karena beasiswa atlit sehingga orang-orang kaya itu mana
sudi berteman denganku.” Minho mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
Taemin agak
tersentuh hatinya, bagaimanapun meski ia tampak dingin di luarnya ia masih
memiliki hati untuk mengerti perasaan Minho.
“miane, aku tidak bermaksud menyinggungmu
tadi. Aku sendiri memang susah dekat dengan orang lain setelah kedua orang
tuaku meninggal, entahlah aku sendiri bahkan tidak pernah mengingat apakah aku
pernah punya teman dekat atau tidak.”
“orang tuamu
sudah meninggal ?’
“iya, 2 tahun
lalu.” Jawab Taemin murung
“mian sudah
mengungkit hal itu, aku juga sebenarnya sudah tidak punya orang tua. Kurasa kita
punya banyak kesamaan ya? Haha...” Minho tersenyum miris.
“gwenchana, kalau
begitu kita teman mulai sekarang, otte?”
“mwo? Kau
serius?”
“tentu saja,tapi
hanya kita berdua tidak ada yang lain. Kita punya banyak kesamaan jadi aku
pikir tak akan susah berteman denganmu, lagipula aku ingin merasakan punya
teman dekat”
“teman…” Minho
menjabat tangan Taemin disertai senyum yang manis.
“yah, teman…”
Dan sejak saat
itu Taemin jadi ingin mengenal Minho lebih dalam, mungkin ia merasa senasib
dengan Minho dalam hal berteman, ia tidak bisa mendapat teman dengan mudah
mengingat statusnya dan Minho pun sama meski dengan situasi yang justru
terbalik. Mulai dari situlah akhirnya keduanya menjadi dekat dan tak
terpisahkan.
End flashback
Minho melihat
perbedaan cerita dari halaman sebelumnya, tulisan Taemin dilembar ini tampak
lebih hidup dan ceria, ia menulis kejadian saat pertama kali ia bertemu Minho
dengan emoticon yang bertebaran di dalamnya, tanpa sadar Minho tersenyum merasa
dirinya adalah orang yang merubah Taemin jadi lebih baik. Ternyata membaca
diary Taemin tak seburuk yang ia bayangkan.
Halaman-halaman
selanjutnya berisi kehidupan Taemin yang baru. Ya, kesehariannya bersama Minho,
anak itu jadi lebih ceria, meski dengan teman yang lain dia masih terkesan
dingin setidaknya Taemin sudah mau menanggapi sapaan temannya. Minho merasa
beruntung karena hanya dia yang bisa melihat Taemin yang sebenarnya. Tawa
Taemin yang begitu menggemaskan, caranya merajuk saat ingin ditemani, marah
yang membuat ia jadi lebih imut saat diabaikan, semuanya dan hanya Minho yang
tau.
Keduanya selalu
menghabiskan waktu bersama saat istirahat di atas atap. Taemin akan membawa
bekal untuknya sendiri dan Minho. Ia tahu Minho hanya hidup sendiri jadi pasti
susah untuk Minho mengurus dirinya sendiri sehingga tak jarang Taemin membawa
bekal yang banyak sekali untuk dimakan berdua. Minho menolak pada awalnya tapi
ia tidak tahan melihat wajah puppy eyes Taemin saat memohon padanya. Dan
akhirnya makan bekal berdua di atas atap menjadi kebiasaan rutin mereka.
flashback
“Yah, kenapa kau
minum minumanku ? aku kan sudah membawa bekal makanan untukmu. Dan sekarang kau
mengambil minumku juga” Taemin berteriak
“kau jangan
pelit deh Taem.” Minho acuh
“besok bawa
minumanmu sendiri.”
“malas ah. Aku
meminta milikmu saja. Tak perlu repot”
“tapi kan
menjijikkan diminum berdua”
“haha… kita kan
sama-sama cowok, kau berpikiran kalau kita ciuman secara tidak langsung yah?
Dasar mesum.”
“A.. anio… hanya
saja …” Taemin jadi gelagapan karena yang
minho katakan tampaknya memang benar.
“sudahlah, kalau
kau tidak mau, aku tinggal membelinya di kantin saja besok.”
“eh, oke..oke..
kau boleh memintanya. Kalau kau membelinya di kantin kan boros padahal kau harus
membiayai hidupmu sendiri.”
Minho terdiam,
Taemin juga, ia jadi merasa bersalah telah mengungkit itu. Berulang kali Minho
mengatakan padanya untuk tidak mengkhawatirkan hidup Minho yang pas-pasan namun
apa daya Taemin memang telah menyayangi Minho sejak awal dan ia tidak bisa
melihat namja itu kesusahan.
“huft… sudah
berapa kali kukatakan eoh? Kau tak perlu khawatir, aku sudah cukup bisa menata
kehidupanku sendiri. Yang terpenting adalah ada kau di sisiku, itu saja sudah
cukup untuk memberiku semangat hidup yang sebatang kara ini. Berjanjilah padaku
untuk terus bersamaku, arra? “
Pipi taemin
merona, kata-kata Minho sudah seperti kata-kata seseorang kepada kekasihnya,
diam-diam ia berjanji dalam hati tak akan meninggalkan Minho apapun yang
terjadi. Ia hanya mengangguk kecil menanggapi permintaan Minho itu.
End flashback
Halaman ketiga
puluh, Minho menyesali pikirannya mengatakan bahwa semuanya terlihat lebih
baik, ini adalah awal dari hal buruk yang membuat ia merasa ragu untuk membuka
diary Taemin. Ia menyesali kebodohannya saat itu, kemunafikannya yang
menganggap rasa nyamannya berada dekat dengan Taemin hanya sebatas sahabat.
Membuat hati
Taemin sakit tanpa peduli apa yang dirasakan namja manis itu ketika ia
bercerita dengan entengnya bahwa dia menyukai seseorang. Bukan… saat itu ia bilang
mencintai bukan hanya sekedar menyukai dan bodohnya ia tidak melihat wajah
terluka Taemin, ia hanya peduli perasaan sesaatnya. Ia membaca tulisan Taemin
dengan air mata yang mengalir.
Dear diary,
Ini adalah hari yang paling kutakutkan, Minho
akhirnya benar-benar menemukan pujaan hatinya. Aku bodoh ya? Seharusnya aku
sebagai sahabat ikut berbahagia dengannya. Tapi aku tidak bisa, aku sakit, aku
tidak bisa membohongi rasa sakitku. Kami bertengkar hebat tadi dan aku semakin
menyesal karena mungkin mulai saat ini aku tidak bisa terlalu dekat dengannya.
Sakit…sakit… aku tidak tahu kenapa rasanya aku
ingin mati saja.
LOVE U MINHO
Flashback
“Taemin ah… kau
tahu Sulli hoobae kita ?”
“ah ne, kenapa
memang ?”
“kurasa aku
mencintainya.”
Deg… kata-kata
Minho menghujam Taemin tepat di hatinya, Taemin meremas baju yang dikenakannya tepat
di tempat hatinya bersarang, sungguh ia seperti kehabisan oksigen.
“kenapa diam ?
kau pasti berpikir aku berkhayal yah? Tentu saja, orang macam sepertiku mana
boleh menyukai gadis sepertinya. Dia cantik, manis, kaya, pintar, apalagi? Kau
tahu? Dia jadi seperti kau dalam sosok yeoja Taemin, sayangnya aku tidak dekat
dengannya, aku hanya dekat dengan kau.” Minho sama sekali tidak menyadari
kata-kata yang ia ucapkan menambah buruk perasaan Taemin.
“kau menyesal
dekat denganku ?”
“anio… hanya
saja aku berfikir aku kurang beruntung karena berada dalam kondisi dimana aku
tidak bisa dekat dengan siapapun semauku.”
Taemin sakit,
lebih dari itu dia ingin mati rasanya, kata-kata Minho itu, apa ia tidak ingat
saat ia berkata bahwa hanya dengan bersama Taemin saja sudah cukup.
“apakah denganku
saja tidak cukup bagimu? Aku sendiri tidak pernah berharap bisa dekat dengan
siapapun selain dirimu.” Taemin berteriak tidak dapat mengontrol emosinya.
“aku juga butuh
orang lain Taemin, tidak cukup kau, aku butuh mencintai seseorang, tidak hanya
kau, apa itu salah? Kita tidak mungkin bersama selamanya kan ? suatu saat kau
juga akan menemukan orang yang kau cintai kan ?” Minho tidak kalah emosi menjawab
pertanyaan Taemin.
“terserah kau
Minho, kurasa kita memang tidak bisa bersama selamanya.” Taemin menyudahi
obrolan panas mereka dan meninggalkan Minho kembali ke kelasnya.
End flashback
Minho masih
ingat dengan jelas kejadian itu, hal yang membuat mereka menjadi jauh. Sejak
pertengkaran itu Taemin tampak menjauh. Minho masih bingung harus bersikap
bagaimana. Namun, di tengah pertengkarannya dengan Taemin Sulli datang padanya,
tampak seperti membuka kesempatan pada Minho untuk dekat dengannya.
Minho jadi
melupakan Taemin perlahan, ia jadi lebih sering terlihat bersama Sulli. Semua
orang pun jadi terlihat lebih akrab dengan Minho setelah Sulli terlihat sering
bersama Minho. Sulli memang gadis baik sebenarnya, ia mengenalkan Minho pada
teman-temannya, membuat kesan baik terhadap Minho hingga semua orang jadi lebih
terbuka menerima Minho.
Minho larut
dalam kebahagiaan bersama Sulli dan teman-teman barunya. Ia tidak pernah
merasakan hal itu saat bersama Taemin. Dengan Taemin, ia hanya menghabiskan
waktu berdua di atap saat istirahat atau pulang bersama. Ya, memang begitu
karena Taemin sendiri tidak cukup punya banyak teman, apalagi teman dekat.
Kalau ditilik lebih dalam, Minho adalah satu-satunya teman Taemin. Sedangkan
Taemin menjadi lebih tertutup dari sebelum ia mengenal Minho setelah itu.
Kembali membuka
lembaran selanjutnya. Kelihatannya Taemin jadi jarang menulis lagi setelah
pertengkarnnya dengan Minho, terlihat beda tanggal yang jauh sekali, Minho
yakin Taemin pasti sudah sangat terluka sampai ia tidak ingin menuliskan betapa
menderitanya dirinya saat itu. Minho sudah tidak bisa menopang tubuhnya saat ia
membaca tulisan Taemin pada lembar ini, ia merutuki dirinya berapa kalipun tak
akan dapat menebus rasa sakit Taemin, ia terisak kini, tidak hanya menteskan
air mata tanpa suara. Memukul hatinya berulang-ulang berharap rasa sakit itu
pergi.
Dear diary,
Sudah beberapa hari ini aku memimpikan hal
yang sama, tentang orang tuaku. Aku sama sekali tidak ingat bagaimana mereka
meninggal dan kemudian mimpi itu datang berulang-ulang membuka ingatan yang
sepertinya dulu tertutup karena rasa bersalahku.
Aku ingat sekarang, AKU.. AKU lah yang telah
membunuh orang tuaku sendiri. Aku gilakan? Aku sendiri benci pada diriku. Aku memang
tak sengaja waktu itu. Aku bodoh? Iya, karena aku dengan bodohnya mempercayai
kata-kata musuh ayahku yang bilang ia meminta maaf untuk kesalahannya selama
itu dan kemudian menerima hadiah dari mereka.
Obat itu, obat yang mereka berikan sebagai
hadiah, yang kata mereka adalah ramuan herbal
yang akan membuat orang tuaku yang super sibuk dengan kehidupan kerajaan
jadi lebih bugar dengan bodohnya aku hidangkan dengan tanganku sendiri. Dan
kemudian aku melihat dengan mata kepalaku sendiri orang tuaku mati karena obat
itu.
Aku hina, aku harusnya dihukum di neraka,
kenapa aku masih hidup sampai sekarang? Pikiran ini menghantuiku setiap saat.
Aku ingin mati tentu saja kalau tidak mengingat Minho. Aku pernah berjanji
padanya untuk selalu berada di sisinya apapun yang terjadi.
Aku tahu sekarang aku hidup pun tak ada
artinya bagi dia, dia sudah hidup bahagia sekarang tanpaku. Tapi bolehkan aku
egois sebentar saja sebelum ragaku benar-benar siap untuk mati, hanya ragaku
karena jiwaku sudah mati saat tahu Minho akhirnya benar-benar jadian dengan
Sulli, ya aku memang sudah MATI saat itu.
Minho ingin melempar diary itu,
ia tidak sanggup meneruskan membaca lembar berikutnya. Namun, naluri keingin
tahuannya melebihi rasa sakit yang ia rasakan. Ia memaksakan diri untuk membuka
lembar demi lembar halaman diary Taemin. Lembar berikutnya membuat ia tercekat,
kertas itu dipenuhi oleh bekas tetesan darah.
Dear diary,
Aku menemukan kesenangan baru sekarang, aku
menikmatinya, aku ketagihan. Aku menyayat tanganku sekarang ini, tangan yang
dulu dengan bodohnya telah membuat orang tua kandungku sendiri mati. Entah
kenapa rasa bersalahku untuk sementara bisa menghilang. Aku tidak peduli semua
orang melihat aneh padaku karena aku harus memakai lengan panjang untuk
menutupi bekas lukanya. Aku tidak peduli, ini mengasyikkan. Jauh lebih
menyenangkan daripada bersama Minho dulu. Rasa ini benar-benar membutakanku.
Aku tidak heran mungkin suatu saat aku akan benar-benar memotong urat nadiku.
Tinggal menunggu waktu hingga ragaku benar-benar siap untuk mati.
AKU BAHAGIA…. :’(
Minho ingat
bahwa ia melihat kejanggalan itu juga. Beberapa hari ia tidak menjumpai Taemin
setelah pertengkaran hebat mereka dan ia menjumpai Taemin memakai cardigan
berlengan panjang, sebelumnya ia tidak pernah melihat Taemin memakai pakaian macam
itu, namun egonya bertahan untuk tidak bertanya lebih lanjut. Ia menyesal
sungguh, kalau saja ia tahu lebih awal.
flashback
Perang dingin
yang terjadi anatara Minho dan Taemin terjadi cukup lama sampai akhirnya Minho
tidak dapat membohongi lagi perasaannya. Ia merindukan Taemin. Ia mencari
Taemin di kelasnya dan hasilnya nihil. Ia mendatangi rumah Taemin sepulang
sekolah. Yang ia tangkap adalah kesan bahwa rumah Taemin sama seperti
kepribadian Taemin dulu, hampa. Rumah mewah itu hanya ditinggali oleh Taemin
beserta beberapa pembantu yang ia sendiri yakin tak akan terlalu peduli dengan
Taemin, mereka pasti hanya sekedar menjalankan perintah tanpa memberi perhatian
yang cukup pada Taemin.
Ia bertanya pada
salah satu pembantu dimana keberadaan Taemin dan pembantu itu hanya menunjukkan
suatu ruang luas di ujung kanan. Minho sebenarnya masih ragu untuk menemui
Taemin tapi ia bersikeras untuk bertemu Taemin apapun yang terjadi. Minho
mengetuk pintu kamar Taemin pelan, sama sekali tak ada tanggapan. Ia mengetuk
pintu itu lebih keras, hasilnya sama. Mungkin Taemin sedang tidur pikir Minho
maka Minho memutuskan untuk mengintip sebentar ke dalam kamar itu.
Minho shock
karena yang ia lihat bukan Taemin yang terlelap di atas kasur empuknya tapi
Taemin yang berdarah d pergelangan tangannya sedang tergeletak di dekat
kasurnya. Ia lekas membawa Taemin menuju rumah sakit, mengabaikan teriakan para
pembantu Taemin. Segera setelah sampai di rumah sakit Taemin buru-buru
ditangani. Minho pasrah hanya bisa menunggu di luar ruang ICU.
Minho jadi sadar
melihat itu semua bahwa hatinya sakit melihat Taemin seperti itu. Tidak hanya
sakit karena Taemin sahabatnya tapi karena ia merasa Taemin sudah menjadi
sebagian dari hidupnya. Ia baru sadar bahwa ia memaksakan diri bersama Sulli.
Minho menghubungi Sulli, mengatakan bahwa ia tidak bisa melanjutkan hubungan
mereka tanpa ingin mendengar tanggapan dari gadis itu atau dia akan kembali
jatuh dalam kesalahan yang sama.
Esok harinya
Taemin baru sadar. Minho setia menunggu di samping tempat tidur pasiennya.
Taemin yang seperti itu tampak menyedihkan, Minho baru sadar kalau Taemin jauh
bertambah kurus. Satu hal lagi, Taemin hanya terdiam sejak ia siuman. Minho
berulang kali mengajaknya bicara namun hanya pandangan kosong yang ia dapat.
Miris, ia merindukan Taeminnya yang dulu
Beberapa hari
terus seperti itu namun Taemin menunjukkan perkembangan, tiap Minho mengajaknya
bicara Taemin sudah mulai merespon tidak hanya memberikan tatapan kosongnya.
Satu bulan cukup membuat Taemin pulih, dia mulai berbicara dengan Minho namun
Minho tak meninggalkannya sejengkalpun bahkan ketika di sekolah, ia hanya tidak
ingin Taemin mengulangi niat bunuh dirinya.
Dua bulan dan
Taemin sudah benar-benar kembali menjadi Taemin yang dahulu. Minho senang
melihatnya. Ia sudah cukup puas kali ini hanya ada Taemin di sisinya tanpa
sadar bahwa Taemin menahan perasaan tersiksanya sendiri. Belum tahu eoh? Taemin
selama itu hanya berusaha tampak terlihat baik-baik saja di depan Minho agar
namja yang ia cintai itu tidak mengkhawatirkannya.
Kenyataannya
kebiasaan Taemin mengiris lengannya tidak berhenti. Namun karena ia tidak ingin
Minho tahu ia mulai menyilet bagian pahanya, semakin sering hingga kalau saja
jeli melihatnya kadang Taemin berjalan agak tertatih-tatih menahan perihnya.
Taemin sendiri tidak tau bagaimana cara menghentikan kebiasaan itu. Ia hanya
merasa semuanya jadi lebih baik terutama perasaannya mengingat apa yang sudah
ia lakukan terhadap orang tuanya.
Cinta Taemin
pada Minho menghalanginya untuk mencoba bunuh diri lagi. Ia tahu, kali ini jika
ia mencoba melakukannya lagi maka namja itu akan nekat menyusulnya. Bukan
karena ia terlalu percaya diri tapi Minho memang telah mengatakan padanya tentang
hal itu. Dan ia menunggu saat yang tepat hingga Minho menemukan pengganti
dirinya kemudian ia sendiri akan mengakhiri hidupnya dan menebus dosanya di
neraka.
End flashback
Minho kembali
menilik diary itu, ia tahu resikonya. Ia akan bertambah sakit setiap ia membuka
lembar-lembar halaman diary itu, namun ia bersikukuh untuk tahu apa yang ada di
pikiran Taemin selama ini. Tinggal 2 halaman yang tersisa. Sungguh pasti ini
adalah halaman yang benar-benar akan menghancurkan perasaan Minho tanpa sisa,
tapi Minho telah siap, siap dengan semua konsekuensinya.
Dear diary,
Aku tahu sekarang, Minho, namja yang aku sukai
ternyata mengidap penyakit kanker hati. Bodohnya aku hanya meributkan masalah
pribadiku tanpa menyadari kalau ia sakit. Dokter bilang ia butuh segera donor
hati. Apakah ini saat yang tepat untuk aku mati? Aku rela mendonorkan hatiku
untuknya, sungguh. Tapi kemudian aku berfikir apa ia benar-benar akan
merelakanku atau seperti yang ia katakan sebelumnya bahwa ia akan menyusulku
jika aku mati? Aku akan memikirkannya.
Np : kebiasaan masokisku masih belum bisa
berhenti, bagian pahaku sampai tidak tersisa, semuanya sudah penuh dengan
sayatan, apakah aku harus mencoba menyayat dadaku sekarang ? ah… aku rasa aku
harus benar-benar memutuskan untuk mendonorkan hatiku untuk Minho sebelum aku
benar-benar mati tidak berguna karena syatan-sayatan ini.
Minho tidak habis pikir dengan
apa yang ia baca barusan. Taemin benar-benar sudah gila. Tapi kenapa namja
manis itu masih saja memikirkan nasib Minho. Sesak sekali membayangkan namja
manis itu dalam pikiran tersiksanya dan masih saja harus memikirkan masalah
Minho. Minho memang mengidap penyakit kanker hati saat itu dan ia baru sadar
setelah berada di stadium akhir. Ia pikir hidungnya mimisan pada awalnya karena
efek terlalu lelah menjaga Taemin tapi ia salah, penyakitnya lebih serius dari
itu.
Sementara itu, ia selalu
berusaha menutupi kenyataan penyakitnya dari Taemin. Namun ia tahu sekarang
bahwa namja manis itu justru tahu dari awal dan merencanakan semuanya.
flashback
Minho terbangun setelah beberapa
hari terbujur di salah satu ranjang rumah sakit. Masih dengan mengumpulkan
segala kesadarannya, ia mencoba melirik samping kanan dan kiri. Tidak ada
siapapun, bahkan Taemin yang menemaninya sebelum operasi berjalan. Ya, Minho
akhirnya berhasil diselamatkan lewat jalan operasi setelah ia mendapat telepon
dari pihak rumah sakit bahwa ada seseorang yang sedia untuk mendonorkan
hatinya.
Minho berusaha meraih tombol
darurat di sebelah ranjangnya. Tidak berapa lama seorang suster masuk,
memeriksa keadaannya. Bersyukur karena suster tersebut mengatakan bahwa
operasinya berhasil dan Minho bisa keluar dari rumah sakit dalam beberapa hari
kemudian. Tidak lupa ia menanyakan keberadaan Taemin. Suster itu hanya
menggelengkan kepala, menambahkan bahwa ia tidak melihat siapapun menjenguk
Minho setelah proses operasinya selesai. Tampak wajah kasihan dari suster
tersebut. Minho tidak kaget karena ia begitu sering dikasihani dan ia sendiri
sudah tidak heran kalau tidak ada yang menjenguknya.
Tapi Taemin? Dimanakah namja
manis itu. Minho sungguh sangat merindukannya. Ia ingin memeluk erat Taemin saat
itu juga, berbagi kebahagiaan bersama orang yang ia cintai karena akhirnya
mereka bisa bersama lagi tanpa takut satu diantaranya akan meninggalkan mereka
secara tiba-tiba seperti ketakutan Taemin sewaktu Minho masih sakit.
Minho mencoba menghubungi ponsel
Taemin sebelum suster yang tadi memeriksanya memberikan bingkisan kepadanya.
Minho bingung bukankah ia hanya dekat dengan Taemin lalu darimana bingkisan itu
berasal, tidak ada nama juga dari bingkisan itu. Tapi ia tidak peduli, ia
melanjutkan mencoba menghubungi ponsel Taemin dan hanya jawaban dari operator
yang ia dapat.
Minho akhirnya keluar dari rumah
sakit beberapi hari setelah operasinya selesai. Sampai hari itupun ia tidak
dapat menjumpai Taemin dimanapun, berulang kali menghubungi ponselnya dan
hasilnya tetap nihil. Ia melirik bingkisan yang beberapa hari lalu diberikan
oleh suster di rumah sakit. Ia jadi berpikir apakah bingkisan itu dari Taemin.
Kejutan yang Taemin berikan untuk menyambut Minho? Membayangkannya saja membuat
Minho bahagia. Ia buru-buru membuka bingkisan itu saat di televisi muncul
berita yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
“Lee
Taemin, penerus satu-satunya keluarga kerajaan Korea ditemukan bunuh diri di
kamarnya dengan mengiris pergelangan tangannya 3 hari lalu. Keluarga kerajaan
sengaja menyembunyikan fakta ini sampai berita ini disiarkan. Sampai saat ini
belum diketahui pasti motiv dari tindakan bunuh diri ini. Berita selengkapnya
akan kami bahas di section berikutnya setelah penyelidikan lebih lanjut.”
Sakit… Minho merasa hatinya dicabik-cabik
mendengar berita itu. Rasa sakitnya bahkan melebihi saat ia mendengar bahwa ia
menderita kanker hati. Taemin mengkhianatinya. Namja manis itu meninggalkannya
unutuk selamanya ketika ia baru saja bermimpi untuk membangun hubungan yang
lebih baik berdua. Ia menyesal, harusnya ia tidak perlu menjalani operasi kalau
akhirnya Taemin jadi tidak ada yang mengawasi. Ia hanya bisa menangis dan
meraung di kamar sempitnya.
End
flashback
Setelah kejadian dimana ia tahu
bahwa Taemin justru bunuh diri saat ia berusaha memperjuangkan hidupnya Minho
hanya bisa berdiam diri tanpa melakukan apapun. Dua hari setelah itu terhitung
hingga hari ini dimana ia akhirnya memutuskan membaca diary Taemin yang
ternyata ada dalam bingkisan yang ia terima ketika di rumah sakit.
Minho akhirnya sampai di halaman
paling terakhir, ini pasti kunci jawaban pertanyaan Minho mengapa Taemin yang
tampaknya sudah membaik akhirnya kembali bunuh diri ketika ia lengah.
Dear Minho,
Aku tahu kau akan marah padaku karena aku
telah melanggar janjiku untuk terus bersamamu. Aku minta maaf dan aku juga
berterima kasih karenamu kematianku yang sekarang tidak sia-sia. Aku memutuskan
untuk mendonorkan hatiku padamu, menitipkannya padamu. Dengan begitu aku jadi
tidak benar-benar melanggar janjiku bukan ? Aku menemanimu selamanya dalam
bentuk hati yang ada di dalam dirimu sekarang. Kau tidak perlu khawatir, aku
bahagia. Aku bahagia sekarang karena aku bisa menebus dosaku dan membuatmu
tetap hidup. Maafkan aku Minho, berjanjilah untuk hidup bahagia dengan hati itu
meski aku merasa hati itu tidak cukup bagus untuk orang sebaik dirimu, tapi
hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu, untuk orang yang aku cintai.
Saranghae Minho.
Sungguh Minho benar-benar
kehilangan nafasnya saat itu. Taemin memutuskan untuk mendonorkan hatinya
hingga ia bisa tetap hidup sekarang? Alasan konyol macam apa itu. Bukankah
Minho sudah pernah bilang kepada Taemin bahwa ia akan menyusul Taemin kalau ia
tetap nekat bunuh diri. Dan sekarang yang ada di pikiran Minho hanya itu,
menyusul Taemin. Ia tidak peduli kalau semua usaha Taemin akhirnya jadi
sia-sia. Ia tidak bisa hidup meski dengan donor hati tanpa Taemin di
sampingnya. Minho mencari-cari pisau di dapurnya dan meniru cara yang sama
dengan Taemin untuk mati.
End…….








0 komentar:
Posting Komentar